Jauh di bawah dasar laut dan di dalam kerak bumi terdapat kehidupan mikroskopis yang tidak biasa kita pahami. Makhluk “intraterestrial” ini – mikroba yang beradaptasi untuk bertahan hidup selama ratusan ribu, bahkan jutaan tahun dalam keadaan tidak aktif – memberikan tantangan mendasar terhadap teori evolusi konvensional. Para ilmuwan kini menyelidiki tidak hanya bagaimana organisme ini bertahan hidup, namun apa yang mungkin mereka tunggu.
Paradoks Evolusi Dormansi Ekstrim
Biologi tradisional mengasumsikan evolusi beroperasi pada rentang waktu yang relevan dengan rentang hidup individu. Burung kutilang Darwin beradaptasi terhadap perubahan sumber makanan dari generasi ke generasi; Rubah Arktik mengubah warna bulunya secara musiman. Namun bagaimana jika “masa hidup” suatu organisme mencakup zaman geologis? Bagaimana seleksi alam bekerja ketika reproduksi terhenti selama ribuan tahun? Pertanyaannya bukan hanya apakah mikroba dapat bertahan hidup dalam keadaan statis, namun apakah mereka telah berevolusi untuk melakukan hal tersebut, mengantisipasi peristiwa-peristiwa dalam skala yang sulit dipahami oleh manusia.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa organisme ini tidak bertahan begitu saja secara kebetulan. Enzim mereka menunjukkan kekhususan untuk kondisi keras di bawah permukaan, menunjukkan adaptasi daripada kelangsungan hidup pasif. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: jika dormansi bermanfaat, bagaimana kontribusinya dalam meneruskan informasi genetik? Evolusi Darwin bergantung pada mutasi selama reproduksi, namun mikroba ini tampaknya mengabaikan reproduksi dalam jangka waktu yang sangat lama.
Irama Lambat Bumi sebagai Penggerak Evolusioner
Jawabannya mungkin terletak pada ritme geologi yang dialami organisme ini. Meskipun manusia atau bahkan burung kutilang tidak akan mengantisipasi penurunan permukaan pulau dalam waktu 100.000 tahun, organisme yang hidup selama jutaan tahun mungkin akan mengalami hal tersebut. Bagi makhluk hidup di bumi, pergerakan lempeng tektonik yang lambat, pembentukan dasar laut baru, atau bahkan letusan gunung berapi bawah laut yang jarang terjadi dapat menjadi peristiwa yang dapat diprediksi, seperti menunggu matahari terbit bagi kita.
Studi menunjukkan bahwa mikroba ini berkembang dalam fase stasioner, mengalahkan strain yang tumbuh dengan cepat ketika sumber daya terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa dormansi jangka panjang bukan sekadar taktik bertahan hidup; itu sebuah strategi. Mereka mungkin adalah “biarawan” dunia mikroba, yang menanggung kekurangan sementara spesies yang kurang mampu beradaptasi punah.
Menunggu Peristiwa Geologi
Hasil akhir dari kesabaran yang luar biasa ini? Pelaburan. Zona subduksi menyeret sedimen jauh ke dalam mantel bumi, namun ada pula yang akhirnya terdorong kembali melalui retakan dan celah di lempeng benua. Penantian jutaan tahun di dalam bumi untuk peristiwa ini tidak akan terjadi secara acak. Mereka cenderung bertahan dalam perjalanan, dan kemudian memanfaatkan lingkungan baru yang kaya akan nutrisi.
Ini berarti sel-sel tidak aktif yang kami temukan dalam sampel inti bukan hanya peninggalan masa lalu; mereka adalah organisme yang secara aktif menunggu pergolakan geologi berikutnya. Keuntungan evolusionernya bukan hanya sekedar bertahan; merekalah yang akan menjajah permukaan ketika kesempatan akhirnya tiba.
Hidup selama jutaan tahun mungkin terdengar tidak masuk akal, namun bagi makhluk hidup di bumi, ini hanyalah rentang waktu di mana evolusi berjalan. Pertanyaannya bukan apakah mereka bisa menunggu; itu yang mereka tunggu untuk.


























